Senin, 23 November 2015

Afwan Abi Kasim Ini harokatnya

تَذْرِ يْب
أ‌-      ضَع مَكَان الْفَرَاغ مَايُناَ سِبُه مِن (إنّ, أنّ, لأنّ, لكنّ)

1-  عَرَفْناَ... لُقْمَان الْحَكِيم كَانَ فَقِيْرا, وَ... الناَّس كاَنُوا يَحْتَرِ مُوْنه, ... لَه عَقْلا ذَكِياّ وخُلُقاً كَرِيْما.
  2-عَرَف النَّاس ... مُحَمّدا كَان مَشْهُوْرا بِصِدْ قِهِ وَأَماَ نَتِه, وَ ... بَعْضهُم لاَ يُؤْمِنُون بِدَعْوَتِه, فَقاَلُوا...  هُ كَذَّاب
   -3 ...النَّاس يُؤْ مِنُوْن بِ ... هُنَاك يَوْما يُحَا سِبُ الله فِيْه أَعْماَلِهم, وَ... بَعْضهُم لاَ يَعْمَلُون الصَّالِحَات
   4- عَلِمَتُ... يَوْم الأَحَد يَوْم العُطْلَة, و ... طُلّاب الصَفذِ الثَا نِي عَشَر يَذْهَبُون إِلَى الْمَدْرَسَة... هُم يُرِيْدُوْن أَنْ يَحْضُروا فِيْها الْحَفْل بِذِكْرَى مَوْلِدالرَّسُوْل ص

ب‌-  اقرأعبارات ( التدريب 2) مرة أخرى مع ضبط آخراسم إن وأخواتها بالفتحة!
ج-اقرأما يلى , واستخرح منه ما يكون فا علا و مفعولا به ومعطو فا وناعتا مع ضبط آخره بالحر كة!


الفاعل
المفعول به                       
                             المعطوف
المسلم الخ     
الناس الخ                        
                             زبور الخ

 -1   يؤ مِن المسلم بأَنَّ الله يُحاسِب النس بَعْدَ مَوْتِهِمْ علَى أ عمالهم , وهذا الإ يمان الصحيح يجعَله يَجْتَنِبُ الشرّ ويُحِبّ الخير.

 -2   ذَكَرَالقرآن تَوْرَاة مُوْسَ و زَبُور داوُد وإنجِيْل عِيْسى . قال الله تعلى : و أنزَل التوراة والإ نجيل مِنْ قَبْلُ هُدًى للناس وأنزَل الفُرْقان)


 -3   يقضِى الصَّديق السُّعودي أياَّم عُطْلَتِهِ في إ نْدُونِيسيا, هو يريد أنْ يزُوْرَ المدارِس والمعا هد فيها, ويُشاهِد البرج القوميّ وغيره مِنَ الأَمْكِنَة المعُروفة في جاكَرْتا.


4- يزُ ور الحُجَّاج مكَّة المُكَرَّمَة و يؤ دون فيها العمرة ثم يزُورون غا ر حرا ء وغيره من الأمكنة التاريخية.

Senin, 16 November 2015

Cerpen Gue Keren Bingitssss

“Tuhan memberikanku kekurangan fisik adalah untuk menguji aku dan engkau. Sejauh mana aku bersyukur, dan sedalam apa kesetiaanmu, menerima kekuranganku. Aku memang tak sempurna, dan inilah yang membuatku takut. Akankah engkau rela menerimaku atau malah akan membuangku setelah mengetahui keadaanku sesungguhnya. Maka jangan takut, kekasih, engkau tak akan kehilanganku. Karena justeru, aku yakin, saat oranglain membuangku karena kekuranganku yang begitu banyak, engkau tetap berada di sini, di sampingku. Karena aku yakin, engkau mencintaiku dengan Lillaahi Ta’aala.” Inbok Raka kepada Laila. Raka adalah seseorang yang mempunyai wajahnya yang pas-pasan. Pas dilihat orang lain, pas orangitu pasti menghina. Kakinya yang ketika berjalan seperti panjang sebelah, membuatnya minder dan tak mau jatuh cinta. Dia fikir, jatuh cinta hanya akan membuat hatinya sakit jika nantinya orang yang yang dicintainya menghina keadaan fisiknya. Namun Alloh Mahaadil. Raka yakin itu, ketika dia mencoba mengungkapkan perasaannya kepada seorang permpuan yang dicintainya. Laila. Seorang perempuan yang mempunyai wajah cantik, berjilbab dan pandai agama. itu adalah penilaian Raka ketika pertama kali melihatnya di Pesbuk. Laila, seorang santriah di sebuah Pondok Pesantren terkenal di Tasikmalaya. Wajahnya cantik, indah menawan, sehingga akan membuat siapa saja yang melihatnya pasti akan menyukainya. Suaranya merdu, apalagi saat ia membacakan Alqur’an dengan diqiro’atkan. Sungguh akan membuat orang yang mendengarkan lantunannya jatuh cinta. Namun Laila bukanlah orang yang mudah jatuh cinta. Dia sangat selektif menerima cinta dari lelaki yang pernah mengungkapkan cintanya. Di Pesantren tempat ia mengaji, menimba ilmu. Hampir semua lelaki yang mengungkapkan cinta kepadanya, mendapat kekecewaan setelah mendengarkan jawaban darinya. Namun Raka tak mengetahui bahwa sebenarnya Laila adalah seseorang yang tak mudah jatuh cinta. Banyak lelaki pandai, ganteng dan dewasa mendekatinya. Namun ia tak pernah menerima satupun dari mereka yang mengungkapkan cintanya. Alasannya hanya satu. Belum ada yang sesuai dengan hatinya. Belum ada yang cocok dengan keinginan hatinya. Raka hanya mengenal Laila dari status-status yang dibuatnya di pesbuk. Raka jatuh cinta pada kata-kata religi dan islami yang dibuat Laila di pesbuknya. “Aku mengharapkan cinta yang tulus datang kepadaku. Cinta yang hanya untuk mengharap ridhoNya saja. Tidak karena kecantikan wajahku, tidak juga karena kepandaian ilmuku. Maka aku akan menerimanya walau apapun dan bagaimanapun keadaannya.” Tulis Laila di statusnya. Terang saja, siapa yang tak suka dengan kalimat indah seperti itu. Apalagi Raka. Raka juga sering menulis status dengan kata-kata yang religi dan islami seperti Laila. Banyak juga yang menyukai Raka. Namun setelah mengetahui keadaan Raka yang sesungguhnya, karena Raka selalu jujur kepada siapapun tentang keadaannya, mereka semua meninggalkan Raka. Mereka hanya mencintai kalimat-kalimat Raka, bukan kepada diri Raka. Laila benar-benar telah berhasil memikat hati Raka. Seperti ia berhasil juga membuat banyak lelaki tergila-gila kepadanya. Raka jatuh cinta, dan selalu merindukan Laila setiap saat. “Ukhti Laila, maukah engkau mendampingi hidupku dalam jalan menuju cintaNya yang abadi? Sungguh keshalihahanmu telah memikat jiwaku, sehingga aku begitu yakin untu memilihmu menjadi pendamping hidup dan matiku, dunia dan akhiratkau”. Kalimat itulah yang telah membuat Laila klepek-klepek, lalu menerima cinta Raka tanpa melihat bagaimana keadaan Raka. Raka juga sebenarnya adalah anak pesantrenan. Sudah hampir sepuluh tahun Raka nyantren di Blitar. Ilmunya tidak jauh dibanding dengan Laila yang juga mesantren sekitar delapan tahunan di Tasikmalaya. “Sekarang, engkau telah mengetahui betapa aku adalah orang tak punya, bahkan aku pun tak mampu bejalan dengan baik seperti laiknya orang lain. Apakah engkau masih akan menerimaku? Aku telah jujurkan kepadamu segala tentang keadaanku. Tentang keluargaku, kehidupan masalaluku dan segala tentang masalah yang sedang aku hadapi sekarang. Apakah engkau masih akan menerima segala keadaanku.” Inbok yang sebelumnya belum dibalas oleh Laila, Raka berbaik sangka. Mungkin Laila tengah sibuk mengajar ngaji di pesantrennya. Karena inbok ini dikirim pada jam sembilan pagi, saat di mana Laila mengajar ngaji kitab kepada santri juniornya. Raka begitu yakin bahwa jawaban dari Laila mungkin akan seperti ini, “Sayang, aku mencintaimu karena Alloh. Apapun keadaanmu aku akan terima sebagaimana aku menerima cintamu sebulan yang lalu.” Atau mungkin seperti ini, “Sayang, jangan kau takutkan aku meninggalkanmu setelah aku tahu segala tentang keadaanmu. Aku meencintaimu apa adanya. Aku mencintaimu karena aku cinta. Ketulusan kalbu dan keikhlasan jiwa ini tak akan tergantikan kepadamu. Karena aku tahu, segala rasa yang dialirkan tanpa rasa tulus dan ikhlas maka akan rusak. Termasuk rasa cintaku padamu.” “Ah, aku koq jadi kayak orang gila begini ya...” Gerutu Raka. Laila memang telah membuat Raka tergila-gila. Sampai jam dua belas siang, saat adzan Dzuhur berkumandang, inbok dari Raka belum juga dijawab oleh Laila. Raka sudah mulai merasakan gelisah dan galau tingkat kabupaten. Raka tidak berani untuk mengirimkan pesan singkat apalagi menelepon. Karena Raka sangat tahu Laila tidak akan suka. Raka menunggu. Ashar, Maghrib, Isya, Inbok belum juga dijawab. Jam delapan lima belas menit, malam jum’at, telepon genggam Raka berbunyi. Dilihatnya di layarnya tertulis nama Lailatie, nama kesanyangan Raka untuk Laila. “Assalaamu’alaikum...” Raka kaget. Ini bukan suara Laila. Raka kenal betul suara Laila. Ini bukan seuaranya. “Wa’alaikumsalaam... “  Jawab Raka dengan nada heran. “Ma’af kalau saya ganggu. Ini Raka kan?” “Iya, Saya Raka. Ini siapa...” “Saya Khumaira, sahabtnya Laila.” “Oh iya, Laila pernah membicarakan antum. Ada apa ya...” “Saya mau berbicara serius denganmu, Raka, tentang Laila. Ma’af katanya tidak bisa menjawab inbokmu di pesbuk. Saya hanya ingin menyampaikan amanah dari Laila untuk mengatakan kepadamu bahwa...” Khumaira terdengar menarik nafas. Ini membuat Raka semakin deg-degan, dan mulai curiga bahwa yang akan disampaikan ini adalah sesuatu yang sangat berat. “Bahwa...“ Khumaira meneruskan perkataannya. “Bahwa malam ini, Laila akan menikah dengan seorang lelaki anaknya pimpinan Pesantren tempatnya mengaji. Sekarang akadnya sedang berlangsung.  Laila meminta ma’af karena tak berbicara langsung. Ini semata karena Laila tak kuat untuk mengatakannya kepadamu. Laila bilang, terimakasih untuk segala kenangan selama sebulan ini. Laila yakin, kamu akan mendapatkan jodoh yang tepat untukmu dari Alloh, insyaalloh.” Raka tersentak. Jantungnya bedetak kencang, tubuhnya bergetar, lidahnya kelu, bibirnya beku. Speechless. Seakan sebuah gunung hendak meletus di hati Raka. Segala rasa yang banyak macamnya bercampur jadi kesedihan dan kepedihan yang mendalam. Perlahan airmatanya mengalir membasahi pipinya, membasahi jiwanya. “Raka...” Khumaira memanggil-manggil. Raka tak mampu menjawab. Khumaira mengerti. Lalu ditutupnya telepon untuk mengakhiri, bahkan sampai lupa berkata salam.

Minggu, 08 November 2015

Bhs Arab Saatul

فَقَا لَ لَه : لاَ , لَسْتَ رَبِّي .. لأَنَّ الرَ بّ لاَ يَغِيْب أَ بَدًا
يَقُوْ ل اللّه تَعَا لَى عَنْ إِبْرَاهِيْم : ( فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ آ لَّيْلُ رَءَا كَوكَبًا قَالَ هَذَا رَبِّي فَلَمَّآ
أَفَلَ قَالَ لَآ أُحِبُّ آلْأَفِلِيِنَ) (الأنعام 76
   ثُمَّ رَأَى إِبْرَاهِيْم اْلقَمَر يَعْلُو فِي السَّمَاء وَيُنِيْر اْلأَرْض,
فَقَا ل : هذَا رَبِّي وظَلَّ يَنْظُر إِلَيْه حَتَّى رَآهُ يَغِيْب
كَمَا غَابَ اْلكَوْكَب, فَحَزِن إِبْرَاهِيْم
وَقَال : لاَ, لَسْتَ رَبِّي..
ثُمَّ قَالَ : يَارَبّ, اِهْدِنِي إِلَيْكَ لأَعْرِفَ مَنْ اَنْتَ!! وَأَيْنَ أَنْتَ!
يَقُوْل تَعَا لَى : ( فَلَمَّا رَءَا آْلقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هَذَا رَبِّى فَلَمَّآ أَفَلَ قَالَ لِئِن لَّمْ يَهْدِنِى
رَبِّى لَأَكُونَنَّ مِنَ آْلقَوْمِ آضَّآلِّيِنَ ) (اللأنعام-77
    ثُمَّ رَأَى الشَّمْس تُشْرِق فِي الصَّبَاح,
فَقَالَ : هذَا رَبِّي لأَنَّهَا أَكْبَر مِنْ كُلِّ شَيْء,
وَبَقِيَ طُوْلَ اْليَوْم الثَّانِي يُتَابِع الشَّمْس وَهِيَ تَرْتَفِع
فِي السَّمَاء حَتَّى غَرَبَت فِي جِهَة اْلغَرْب..
فَقَالَ : لاَ بُدَّ أَنْ يَكُوْن لِهذَا اْلكَوْن جَالِقُ لاَ تَرَاه اْلعُيُوْن
يَقَوْل تَعَا لى :
فَلَمَّا رَءَا آلشَّمْسَ بَازِغَةً قَا لَ هَذَا رَبِّى هَذَآ أَكْبَرُ فَلَمَّآ أَفَلَتْ قَالَيَقَوْمِ إِنِّى
بَرِى ءُ مِّمَّا تُشْرِكُونَ() إِنَّى وَجَّهِىَ لِلَذِى فَطرَ آلسَّمَوَتِ وَآْلأَرْضَ
حَنِيفًا  وَمَآ أَناْ مِنَ آْلمُشْرِكِينَ () (الأنعا79

       وَعَا إِبْرَاهِيْم بَعْد تِلْكَ الّرِحْلَة الشَّا قَّة التي قَضَا فِيالتَّفَكُّر وَاتَّاَمُّل ..
عَادَ وَهُوَ يَعْتَقِد أَنَّ اللّه أَكْبَر مِنْ أَنْ يَرَاهُأَحَد
يَقُوْل تَعَا لَى : ( وَكَذَلِكَ نُرِى إِبْرَهِيمَ مَلَكُوتَ آلسَّمَوَتِ وَآلْأَرْضِ وَلِيَكُونَ
مِنَ آلْمُوقِنِينَ) (الأنعا 75
       هكَذَا وَصَلَ إِبْرَاهِيْم - عَلَيْه السَّلاَم – إِلَى مَعْرِفَةِ اللّه تَعَالَى – وَهُوَ فَتًى صَغِيْر
السِّنّ – بِفِكْرِه وَتَأَمُّلِه وَنَظْرِه .. دُوْنَ اَنْيُعَلِّمَه أَحَد اَوْيُرْشِدَه إِنْسَان. 

Minggu, 01 November 2015

Bhs Arab Chetarr



المفر دات    

نَجَّا ر - صَنَم ج أَصنام – فَتًى ج فِتْيَان – حَقْل ج حُقُوْل - زَرْع ج زُرُوْع – عَلىَ حَيْرَةِ –
كَوْ كَب ج كَوَا كِب – نَجْم ج نُجُوْم – رِحْلَة شَا قَّة – صَغِيْر السِّنِّ


الأ فعل


نَشَأَ يَنْشَأ – تاَ جَرَ يُتاَجِر – رَكَّبَ يُرَكِّب – شَرَقَ يَشْرُقُ – بَحَثَ يَبْحَثُ عَنْ – أَنْبَتَ يُنْبِت – أَبْدَعَ يُبْدِعُ – سَوَّي يُسَوِّى – غَرَبَ يَغْرب – أَقْبَلَ يُقْبِل – لَمَعَ يَلْمَج – حَزِنَ يَحْزَن – تاَبَع يُتَابِع – تَأَمَّلَ يَتَأمَّل – أَرْشَدَ يُرشِد


تَدْرِيْب (1)
اِمْلا الْفَرِاغ بِمَا هُوَ مُناَ سِب مِنَ الْلكَلِماَ الآتِيَة !
(يَبْقَي - يَتَأَمَّل – يَعْتَقِد – يُتاَجِر – يُرْشِد – يَقْضِي)
     1-أَرْسَلَ الله مُحَمَّدا لِ ... الناَّس إِلَى تَوْحِيْدِه
     2 -... أَبِي فِي الْبَيْتِ لاَ يَذْهَب إلَى أَيِّ مَكاَن
     3 -الْمُوَظَّف...نَهَارَهُ فِي مَكْتَبِه ثُمَّ يَرْجِعِ إِلَى بَيْتِه مَسَاءً
      4-كَانَ أَبُوإِبْرَهِيْم... الأَصْنَام فِي السُّوْق
      5- كَانَ إِبْرَهِيْم يَنْظُر إِلَى السَّماَء وَ... فِي خَلْقِ الْعاَلَم

تَدْرِيْب (2)
اِخْتَر أَنْسَبَ الْكَلِماَت الثَّلاَ ث التَّلِيَه!
1)... إِبْرَاهِيْم فِي بِيْئَةٍ يَعْبُد فِيْهَا النَّاس الْأَصْنَام
     (نَشَأَ – فَرَحَ – اِسْتَفَادَ  )
2)اِجْتَهَدَ إِبْرَاهِيْم فِي السَّعْيِ لِ ...
    (صِنَاعَةِ الْأَصْناَم – لِقاَءِ الله – مَعْرِفَةِ الْخاَلِق)
3)لاَتَسْتَطِيْع الْحَيَوَاناَت وَالنَّباَتاَت أَنْ... سُؤَالِ إِبْرَاهِيْم عَنْ خَالِقِهاَ
    (تَبْحَث عَنْ – تُجِيْب عَلَى تُرْشِد إِلَى)
4) الشَّمْسِ وَبَدَأَ اللَّيْل
(أَشْرَقَتْ – لَمَعَتْ – غَرَبَتْ)

5)أَشْرَقَتْ... وَهِيَ تَرْتَفِع فِي السَّمَاء نَهَارًا
   (الشَّمْس – النُّجُوْم – الْكَوَكب)
6)الله خَالِقُ لَاتَنْظُرإِلَيْه ...
   (الْعُيُوْن – اْلأَفْكَار – الْأَصْنَام)
7)... أَبُو إِبْرَا هِيْم الْأَصْناَم
      (أَبْدَع – أَنْبَت –صَنَعَ)


89-90


ترريب (2)
أ‌-      ضع مكان الفراغ ماينا سبه من (إن, أن, لأن, لكن)

1-  عرفنا... لقمان الحكيم كان فقيرا, و... الناس كانوا يحتر مونه, ... له عقلا ذ كيا وخلقا كريما.
2-      عرف الناس ... محمدا كان مشهورا بصد قه وأما نته, و ... بعضهم لا يؤنون بدعوته, فقالوا...  ه كذاب
3-      ... الناس يؤ منون ب ... هناك يوما يحا سب الله فيه أعمالهم, و... بعضهم لا يعملون الصالحات
4-      علمت... يوم الأحديوم العطلة, و ... طلاب الصف الثا ني عشر يذهبون إلى المدرسه ... هم يريدون أن يحضروا فيها الحفل بذكرى مولدالرسول ص

ب‌-  اقرأعبارات ( التدريب 2) مرة أخرى مع ضبط آخراسم إن وأخواتها بالفتحة!
ج-اقرأما يلى , واستخرح منه ما يكون فا علا و مفعولا به ومعطو فا وناعتا مع ضبط آخره بالحر كة!

الفاعل
المفعول به                        
          المعطوف
المسلم الخ      
الناس الخ                         
           زبور الخ



1-   يؤ من المسلم بأن الله يحاسب النس بعد موتهم على أ عمالهم , وهذا الإ يمان الصحيح يجهله يجتنب الشرو يحب الخير.

2-   ذكرالقرآن توراةموس وزبور داود وإنجيل عيسى . قال الله تعلى : و أنزل التوراة والإ نجيل من قبل هدى للناس وأنزل الفرقان)


3-   يقضى الصديق السعودي أيام عطلته في إ ندونيسيا, هو يريد أن يزور المدارس والمعا هد فيها, ويشاهد البرج القومي وغيره من الأمكنة المعروفة في جاكرتا.

4-   يز ور الحجاج مكة المكرمة و يؤ دون فيها العمرة ثم يزورون غا ر حرا ء وغيره من الأمكنة التاريخية.

100- 101


                                                                                                 

Kamis, 24 September 2015

Pidato Menyambut Idul Adha

Allahu Akbar- ALLahu Akbar- Allahu Akbar – WaliLlahil Hamd.
teman2 Idul Adha yang senantiasa mengharapkan ridha Allah swt.
Alhamdulillah, tentu merupakan satu kenikmatan dan kebahagiaan yang tiada terhingga bahwa kemarin kita merayakan hari raya Idul Adha, hari raya terbesar bagi umat Islam yang bersifat internasional, setelah dua bulan sebelumnya kita merayakan hari raya Idul Fithri. Pada hari ini sekitar tiga juta umat Islam dari beragam suku, bangsa dan ras serta dari berbagai tingkat sosial dan penjuru dunia berkumpul dan berbaur di kota suci Makkah Al-Mukarramah untuk memenuhi panggilan Allah menunaikan ibadah haji: “Dan serulah manusia untuk menunaikan ibadah haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh“. (Al-Hajj: 27)
Hari raya Idul Adha juga merupakan hari raya istimewa karena dua ibadah agung dilaksanakan pada hari raya ini yang jatuh di penghujung tahun hijriyah, yaitu ibadah haji dan ibadah qurban. Kedua-duanya disebut oleh Al-Qur’an sebagai salah satu dari syi’ar-syi’ar Allah swt yang harus dihormati dan diagungkan oleh hamba-hambaNya. Bahkan mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah merupakan pertanda dan bukti akan ketaqwaan seseorang seperti yang ditegaskan dalam firmanNya: “Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati”. (Al-Hajj: 33) Atau menjadi jaminan akan kebaikan seseorang di mata Allah seperti yang diungkapkan secara korelatif pada ayat sebelumnya, “Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya”. (Al-Hajj: 30)
Kedua ibadah agung ini yaitu ibadah haji dan ibadah qurban tentu hanya mampu dilaksanakan dengan baik oleh mereka yang memiliki kedekatan dengan Allah yang merupakan makna ketiga dari hari raya ini: “Qurban” yang berasal dari kata “qaruba – qaribun” yang berarti dekat. Jika posisi seseorang jauh dari Allah, maka dia akan mengatakan lebih baik bersenang-senang keliling dunia dengan hartanya daripada pergi ke Mekah menjalankan ibadah haji.
Namun bagi hamba Allah yang memiliki kedekatan dengan Rabbnya dia akan mengatakan “Labbaik Allahumma Labbaik” – lebih baik aku memenuhi seruanMu ya Allah…Demikian juga dengan ibadah qurban. Seseorang yang jauh dari Allah tentu akan berat mengeluarkan hartanya untuk tujuan ini. Namun mereka yang posisinya dekat dengan Allah akan sangat mudah untuk mengorbankan segala yang dimilikinya semata-mata memenuhi perintah Allah swt.

Allahu Akbar- ALLahu Akbar- Allahu Akbar – WaliLlahil Hamd.
Kini hal-hal yang menyangkut pengorbanan telah banyak yang hilang digantikan dengan spirit mengabdi kepada motif mendapatkan keuntungan setinggi-tingginya. Semua dilakukan dengan pamrih yang kian lama kian menjauhkan individu dari ikatan-ikatan sosial. Idul Adha mengandung spirit untuk menautkan kembali ikatan-ikatan yang telah terlepas itu.

Karena itu, spirit yang terlahir sekian ratus tahun lalu itu menjadi sangat relevan hingga hari ini. Dalam konteks Indonesia, semangat ini bahkan telah menjadi sebuah urgensi. Banyak persoalan bangsa muncul akibat lemahnya spirit untuk berkorban bagi orang lain, spirit untuk berkorban bagi sesama.

Yang jauh lebih menonjol dalam kehidupan sehari-hari sekarang adalah semangat untuk menang sendiri, kaya sendiri, berkuasa sendiri, dan benar sendiri. Spirit seperti ini sudah barang pasti tak menghiraukan penderitaan sesama.

Korupsi, kolusi, dan konspirasi adalah fenomena yang terlahir dari dominasi tata nilai seperti itu. Dan menjadi sebuah kelaziman bila sebagai dampaknya lahirlah penyakit-penyakit sosial. Seperti kemiskinan, kebodohan, kejahatan, keterbelakangan, dan ketertindasan.

Adalah saat yang tepat bagi bangsa ini untuk mengambil hikmah atas hakikat Idul Adha. Tepat karena bangsa ini masih berkubang dalam krisis setelah terpuruk hampir satu dekade. Tepat pula karena di seluruh penjuru negeri kian banyak saudara-saudara sebangsa dan setanah air yang membutuhkan uluran tangan akibat kehidupan yang serbakekurangan.

Korban tsunami di Aceh dan Sumatra Utara masih banyak yang didera nestapa. Juga korban gempa di Yogyakarta dan Jawa Tengah, korban banjir di Sumatra, dan korban lumpur panas di Sidoarjo. Semua kenestapaan itu menunggu pengamalan atas spirit yang membebaskan

Hadirin wal Hadirat RahimakumuLlah.
Demikian sungguh pelajaran yang sangat berharga. Kita selaku generasi masa kini telah berhutang budi kepada generasi-genersai sebelumnya dalam seluruh apa yang kita ni`mati saat ini sebagai hasil dari pengorbanan, perjuangan dan sikap mereka yang mendahulukan kepentingan orang lain. Maka sepatutnyalah jika kita melanjutkan rangkaian pengorbanan mereka itu sehingga kita dapat menyampaikan keni`matan ini kepada generasi berikutnya seperti yang telah dilakukan oleh generasi sebelum kita. Akankah generasi kita saat ini mampu menghargai makna pengorbanan dan mendahulukan kepentingan orang lain? Apakah generasi kita mampu mempertahankan akhlak luhur seperti ini yang memang telah diperintahkan oleh Allah swt?. “Dan orang-orang yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Al Hasyr: 9)
Disini hari raya Idul Adha kembali hadir untuk mengingatkan kita akan ketinggian nilai ibadah haji dan ibadah qurban yang sarat dengan pelajaran kesetiakawanan, ukhuwwah, pengorbanan dan mendahulukan kepentingan dan kemaslahatan orang lain. Semoga akan lahir keluarga-keluarga Ibrahim berikutnya dari bumi tercinta Indonesia ini yang layak dijadikan contoh teladan dalam setiap kebaikan untuk seluruh umat.

Sabtu, 08 Agustus 2015

Lirik Lagu Kun Anta - Humood AlKhudher

liujarihim, qoldat tu zohiru ma fihim
Pabadautu shakhson a-khar, kai atafa-khar,
Wa zonan tu ana, anni bizalika huztu ghina,
Fawajad tu anni kha-sir, fatilka mazohir,

La la,
La nahtajul ma-la,
Kai nazdada jama-la,
Jauharna huna,
Fi qalbi talala,
La la,
Nurdhin nasi bima-la,
Nardhohu la na ha-la,
Za-ka jamaluna,
Yasmu yataa’la
Oh Wo Oh (6x),
Kun anta tazdada jamala (2x)

Attaqabbalhum, anna-su lastu qalliduhum,
Illa bima yurdhi-ni, kai urdhi-ni,
Sa akunu ana, mithli tamaman hazana,
Fakona a’ti takfini, za-ka yaqi-ni,

La la,
La nahtajul ma-la,
Kai nazdada jama-la,
Jauharna huna,
Fi qalbi talala,
La la,
Nurdhin nasi bima-la,
Nardhohu la na ha-la,
Za-ka jamaluna,
Yasmu yataa’la
Oh Wo Oh (6x)
Kun anta tazdada jamala

Saakunu ana, man ardho ana, lan asa’ la liri dhohum,
Waakunu ana, ma ahwa ana, ma-li wama liridhohum,
Saakunu ana, man ardho ana, lan asa’ la liri dhohum,
Waakunu ana, ma ahwa ana, lan ardho ana biridhohum

La la,
La nahtajul ma-la,
Kai nazdada jama-la,
Jauharna huna,
Fi qalbi talala,
La la,
Nurdhin nasi bima-la,
Nardhohu la na ha-la,
Za-ka jamaluna,
Yasmu yataa’la
Oh Wo Oh (6x),
Kun anta tazdada jamala (2x)
 


 لأجاريهم، قلدت ظاهر ما فيهم 
Ketika ingin bersaing dengan yang lain, aku ingin meniru perwatakan luar dan dalamnya. 

فبدوتُ شخصاً آخر، كي أتفاخر 
Jadi aku boleh jadi seorang yang lain hanya untuk berbangga 

و ظننتُ أنا، أنّي بذلك حُزْت غنى 
dan aku sangka jika aku lakukan seperti itu aku akan dapat kelebihan 

فوجدتُ أنّي خاسر، فتلك مظاهر 
Tetapi yang kuperolehi hanyalah kerugian di atas perwatakanku ini. 

لا لا لا نحتاج المال، كي نزداد جمالا، جوهرنا هنا، في القلب تلالا
 Kita tidak memerlukan harta untuk menambahkan kecantikan, kecantikan dalaman (jauhari) ada di sini di dalam hati ia bersinar. 

لا لا نرضي الناس بما لا، نرضاه لنا حالا، ذاك جمالنا، يسمو يتعالى 
kita tidak perlu memandang pandangan orang lain untuk apa yang tidak ada, yang tidak sesuai dengan kita, itulah kecantikan kita, semakin bertambah hingga ke atas. 

كن أنت تزدد جمالاً 
Jadilah diri kamu sendiri pasti akan menambahkan lagi kecantikan yang sedia ada 

أتقبّلهم، الناس لست أقلّدهم 
Sungguh aku menerima mereka tetapi tidak pula aku meniru perwatakan mereka

 إلا بما يرضيني، كي أرضيني 
melainkan apa yang aku terima itu aku telah redha. 

سأكون أنا، مثلي تماما هذا أنا
 aku ingin menjadi seperti diri aku sendiri inilah aku 

فقناعتي تكفيني، ذاك يقيني
 hal ini kurasakan sudah cukup dan aku sangat pasti 

سأكون أنا، من أرضى أنا، لن أسعى لا لرضاهم 
Aku akan jadi mengikut kemampuan diriku aku tidak perlukan orang lain menerimaku

 وأكون أنا، ما أهوى أنا، مالي وما لرضاهم 
aku akan jadi apa yang aku suka kenapa aku perlu peduli tentang penerimaan mereka terhadapku?